Friday, July 18, 2014

catatan kecil

Apakah kamu seperti ini?

Saat kamu sendiri dan sedang mengharapkan kehadiran seorang wanita untuk menemani kesendirianmu, kamu selalu mencari cara bagaimana bisa mendapatkan sosok wanita yang berhati mulia setelah kamu di kecewakan oleh wanita-wanita sebelumnya. Hingga kamu memutuskan untuk pergi dan membuka hatimu untuk wanita lain.

Detik, menit, jam, hari, hingga berbulan-bulan kamu lalui dengan kesendirian. Dan sekarang, lihat! Kamu telah mendapatkan wanita yang kamu harapkan itu. Yg di mulai dari percakapan singkat hingga menjadi kekasihmu. Sebuah perhatian telah kamu berikan untuknya, sehingga dunia terasa menjadi milik kalian berdua.

Kamu selalu membuat peraturan-peraturan yang belum pantas buat kamu melarangnya. Sehingga peraturan itu bernilai wajib untuk tidak di langgar. Padahal sebenarnya kamu belum berhak untuk melarangnya, itu di karnakan kamu belum mempunyai hbngan yg sah dengan wanita tersebut.

Ada saatnya kekasihmu itu butuh kebebasan agar dia merasa nyaman untuk menjalani hubungan denganmu. Tapi, kamu sama sekali tidak mengerti. Kamu tetap berpegangan pada peraturanmu. Sehingga wanitamu merasa tertekan.

Mungkin saat ini kekasihmu masih bersabar terhadap aturan2 yg kamu buat untuknya. Tetapi suatu saat kamu juga harus bersabar dan harus menerima kenyataan kalau kekasihmu harus pergi dan memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan mu lagi.

Menjalani hubungan itu tidak mudah.h

Saturday, January 11, 2014

JASA SEORANG IBU


  • Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.

  • Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan. Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.

  • Saat kau berumur 3 tahun, memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang. Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.

  • Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna. Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan

  • Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah. Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.

  • Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah. Sebagai balasannya, kau berteriak."NGGAK MAU!!"

  • Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola. Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.

  • Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim. Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.

  • Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu. Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

  • Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun. Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

  • Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop. Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain

  • Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa. Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai di keluar rumah

  • Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.

  • Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan. Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya..

  • Saat kau berumur 15 tahun, pulang kerja ingin memelukmu. Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

  • Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya. Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

  • Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting. Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.

  • Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA. Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

  • Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama Sebagai balasannya, kau  minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

  • Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?" Sebagai balasannya, kau jawab, "Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"

  • Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."

  • Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi. Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.

  • Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furnitur untuk rumah barumu. Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furnitur itu.

  • Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan. Sebagai balasannya, kau mengeluh, "Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"

  • Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu. Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

  • Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya, "Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"

  • Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, "Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."

  • Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu. Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya. Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena 'mereka' datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI...

Thursday, October 17, 2013

cerpen [Kisah Gadis Yang Ku Sebut "Aku"]

Anak remaja dari 5 bersaudara itu bernama Citra Annisa, yang akrab di panggil Citra. Saat itu umurnya masih tergolong muda (15thn)

Terdapat bangunan tua yang sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang ini, tepatnya di ujung jalan A.P.Pettarani adalah salah satu tempat Citra menuntut ilmu. Saat itu Citra masih berstatus siswa baru di sekolah itu, masih asing dengan suasana di dalamnya. Citra yang masih murid baru harus pandai-pandai menyesuaikan diri, menjaga sikap, dan lain sebagainya.

Saat itu, kondisi yang kurang sehat sangat mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Termasuk pada saat Citra berada di sekolah. Hari demi hari Citra jalani semua ini dengan perasaan yang kurang nyaman, mencoba untuk tidak mengeluh tapi apa daya Citra tidak sanggup bila harus seperti ini setiap harinya. Citra yang sering kali menyembunyikan semua ini dari kedua orang tua dan juga teman dekatnya. Karena Citra takut saat ayah dan ibu tahu apa yang telah Citra sembunyikan ini, konsentrasi mereka dalam bekerja akan terganggu. Citra tidak ingin membebani mereka bila Citra mengeluh kesakitan, Citra juga tidak ingin membuat mereka panik dan harus membawanya ke rumah sakit dan mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan anaknya ini. Citra tahu masih banyak keperluan lain yang harus di penuhi, maka dari itu Citra tidak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya. Citra meyakinkan dirinya "suatu saat aku akan sembuh".

Tetapi, apa yang Citra yakinkan saat itu mungkin tidak seperti yang ia harapkan.  Kegiatan-kegiatan di sekolah semakin banyak, belum lagi saat itu Citra mengikuti ekstrakulikuler (pramuka) dan fisika club di sekolah dan di tambah dengan tugas kelompok (bila ada) yang membuat jam istirahatnya semakin sedikit. Citra memaksakan diri untuk menjalani kegiatan-kegiatan tersebut dengan kondisi yang seperti ini dan sangat jarang memikirkan kesehatannya yang semakin hari semakin lemah. Singkat cerita, saat itu sekolahnya mengadakan acara tahunan (porseni). Karena sering memaksakan diri, akhirnya Citra harus terbaring di atas tempat tidur rumah sakit sehingga Citra tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut. Suasana di ruang IRD terasa sesak. Banyaknya pasien yang berdatangan serperti susah untuk menghirup udara segar. Pemeriksaan tensi, suhu tubuh, pengambilan darah, serta pemasangan infus telah ia jalani. Setelah beberapa jam menunggu, tiba-tiba dokter datang dan memberitahukan hasil pemeriksaan tadi. "Citra mengalami infeksi lambung yang dapat berakibat fatal dan juga HB yang sangat rendah" kata sang dokter. Citra berharap semoga ini untuk yang ke-2 dan terakhir kalinya Citra di rawat di R.S . Citra tidak mau orang-orang di sekitarnya cuma merasa kasihan dengan keadaannya, tetapi ia ingin orang yang benar-benar peduli terhadap dirinya.

Teman-teman Citra yang sedang mengikuti kegiatan porseni di sekolah harus membuang sedikit waktunya untuk datang menjenguknya. Disaat Citra mengharapkan seseorang untuk datang menjenguk ternyata mempunyai banyak urusan di luar. Entah itu sekedar alasan yang di buat-buat ataukah dia memang tidak punya niat sama sekali untuk melihatnya yang sedang terbaring lemah sekarang ini. Mungkin dia tidak mau lagi mengetahui kondisi Citra saat ini. Sejak Citra masuk sampai ia di persilahkan oleh dokter untuk rawat jalan, seseorang yang Citra tunggu itu sama sekali tidak memperlihatkan batang hidungnya. Hingga sekarang Citra tahu dia yang dulu ia anggap baik dan akan peduli dengannya ternyata hanya sekedar khayalan Citra saja.

Citra ingin melupakan kejadian itu, Citra tidak mau dia menjadi salah satu beban pikirannya. Semoga Citra tidak lagi menyusahkan orang-orang di sekelilingnya, terutama untuk Ayah dan Ibu yag selalu meluangkan waktunya untuk anak-anaknya.

***
Disaat Citra akan beranjak dewasa, Citra berpikir apakah ia dapat bersikap lebih bijaksana, dapatkah Citra berbuat seperti apa yang ia katakan, mengatur dan mengubah kebiasaan yang buruk menjadi lebih baik. Berbagai pertanyaan seketika terlintas di benaknya, tak ada jawaban yang Citra dapatkan dan keraguanpun selalu menyelimuti pikirannya. Lagi dan lagi pertanyaan itu selalu saja teringat ketika Citra sedang tidak mempunyai aktivitas, yaah sebut saja di saat Citra sedang melamun.

Menurut Citra, ia belum terlalu dewasa. Biasanya seusia Citra menyebutnya "masih labil". Yah, mungkin Citra termasuk dalam kategori yang tadi. Citra masih sering nangis di saat ada sesuatu yang Citra inginkan tapi tidak di penuhi. Kadang Citra memakai cara untuk merayu Ayah Ibunya agar permintaannya dapat terpenuhi, Citra memakai cara ngambek dan menyendiri di kamarnya. Terkadang cara yang ia gunakan itu berhasil meluluhkan hati orang tuanya (dasar anak kecil :D).

Kamar tidur miliknya yang sering ia gunakan untuk memanjakan dirinya itu. Ia terbaring di tempat tidur, Citra memikirkan apa yang baru saja iya lakukan. Seketika Citra termenung "Seharusnya aku tidak boleh bersikap seperti itu, mungkin sebaiknya aku tidak memenuhi dan mengikuti apa yang aku inginkan. Tetapi memenuhi apa yang aku butuhkan saja, sehingga hasilnya dapat bermanfaat".

***
Tidak terasa Citra sudah hampir setahun menuntut ilmu di sekolah itu, semester 2 pun akan berakhir. Seluruh siswa kelas X sudah melewati tahap pertama dan telah menentukan jurusan mereka masing-masing. Saat itu Citra dan juga teman dekatnya memilih jurusan Ipa.

Saat Citra menduduki kelas XI, banyak cerita yang terukir pada masa-masa itu. Teman-teman sekelas Citra mempunyai karakter yang berbeda-beda. Karena saat itu di kelas Citra sekarang ada beberapa siswa siswi dari berbagai kelas, ada yang dari kelas X3, X5, X7, X8, dan juga X9. Tentu saja mereka semua belum saling mengenal satu sama lain, yaa paling-paling mereka hanya kenal muka. Mungkin pernah melihat tapi tidak tahu nama. Citra dan juga teman kelasnya masih harus menyesuaikan dirinya kembali.

"Krrriiiiiiing....." bel berbunyi. Citra hanya mengisi jam istirahat itu dengan ngobrol dan bercanda dengan teman kelasnya di waktu kelas X dulu, yang sekarang sekelas lagi dengan Citra. Begitu juga yang dilakukan beberapa teman Citra lainnya. Lambat laun mereka semakin akrab. Citra yang awalnya di kenal pendiam ternyata tidak seperti yang teman-temannya bayangkan.

Pada saat pemilihan ketua kelas, wakil ketua kelas, sekertaris, dan bendahara, Citra mengajukan tangan dengan perasaan yang masih penuh dengan keraguan. Setelah pemilihan berlangsung hingga selesai, sorakan di kelas XI IPA 5 secara perlahan padam. Saat hasilnya di bacakan, ternyata yang terpilih menjadi ketua kelas adalah Ahmad Sajjad, Wakil ketua kelas ........., sekertaris Atikah Aryani, dan Citra menjabat sebagai bendahara kelas. Pekerjaan sebagai bendahara tentu saja memegang dana kelas dan juga sebagai penagih uang. Suara adalah salah satu modal Citra dalam menagih (hahaha kasihan). Cukup sulit dalam pekerjaan ini tapi apa boleh buat, ini adalah bagian dari tanggung jawab Citra sendiri.

Sebagian di antara teman-teman Citra pernah mempunyai perasaan lebih dengan teman sekelasnya sendiri. Salah satunya adalah ketua kelas XI IPA 5, teman Citra yang akrab di panggil Sajjad mempunyai perasaan suka dengan seorang gadis cantik bernama Rafiqah. Ada juga bernama Bayu yang suka dengan teman Citra yang akrab di panggil Uni dan juga bendahara kelasnya (-,- anak jaman sekarang).

Ada kejadian kecil yang pernah Citra alami saat di kelas XI, cukup menjengkelkan menurutnya, tetapi kelihatan lucu menurut teman sekelas Citra. Salah satu kerjaan seseorang kakak kelas yang lumayan jail. Citra menyimpan sepatunya di pojokan, ia berniat menjemur sepatunya yang habis Citra gunakan sehabis berwudhu. setelah shalat dzuhur telah usai, Citra bergegas mengambil sepatunya yang ia sandarkan di pojokan lantai 2 tadi. Citra kebingungan mencari sepatunya yang sebelah kiri itu, samapai-sampai ia meminta bantuan temannya. Ternyata sepatu Citra yang sebelah itu sudah berada di lantai 1. Kebetulan di lantai 1 ada beberapa laki-laki yang masih nongkrong di sekitar situ, kami pun berniat meminta bantuan laki-laki yang merupakan kakak kelas kami untuk melemparkan sepatu Citra. Tetapi, sepatu Citra di jadikan sebagai bahan tertawaan mereka. Citra kesal saat ia melihat sepatunya di bawa dengan seorang kakak kelas tadi. Citra kembali kekelas, meninggalkan kedua temannya tadi dengan perasaan jengkel. Saat itu Citra nangis karna ulah kakak kelas itu. Yang ada di pikiran Citra saat itu "apakah aku harus bertelanjang kaki saat pulang? jalan tanpa alas kaki sebelah yang tidak habis ia pikirkan". Banyaknya teman sekelas Citra bertanya "Cit, kok kamu nangis sih? ada apa?" kata beberapa teman sekelas Citra. Citra yang di serbu dengan berbagai pertanyaan membuatnya semakin nangis, dan Citra tidak menjawab pertanyaan teman kelasnya itu.

Ketika pelajaran terakhir akan dimulai, tiba-tiba terlihat sosok kakak kelas tadi di depan pintu kelas Citra, ia berniat untuk meminta maaf kepada Citra. Ucapan maaf yang di ucapakan berulang kali oleh kakak kelas itu membuat Citra malu untuk menaikkan kepalanya dari atas mejanya. Akhirnya Citra luluh dan mau memaafkan ulah kakak kelasnya itu.

***

Citra tidak pernah menyangka bisa akrab dengan seniornya itu, keakraban mereka di mulai pada jejaring sosial (twitter). Citra yang awalnya tidak sadar kalau orang yang ia temani mentionan itu adalah kakak kelasnya yang pernah membuat Citra nangis. Hingga saat itu, kakak kelas itu yang membuat Citra sadar. Citra yang sering kali mentionan dengan seniornya itu membuat mereka semakin akrab. Candaan, curhat, dan lain sebagainya menjadi bahan pembicaraan mereka saat mentionan, sms, ataupun bman. Ucapan selamat pagi yang tidak mereka ungkapkan langsung kepada orangnya adalah cara mereka menyembunyikan sesuatu.

Keakraban Citra dengan seniornya tidak berlangsung lama, hanya 3 bulanan lebih saja. Adanya masalah di antara mereka membuat Citra dengan seniornya seperti tidak saling kenal. Dalam sekejap perubahan-perubahan itu terjadi. Alasannya cukup sulit untuk di tebak. Saat itu Citra sering kali meluangkan waktunya untuk membuka blog miliknya.

Kadang Citra melamun saat berada di kamar tidurnya, mikirkan sosok orang yang kini telah pergi. mengingat kisahnya yang kini telah menjadi kenangan. Mengingat..Mengingat...dan Mengingat akhirnya meneteskan air mata. Mungkin Citra yang terlalu berharap lebih darinya ? ataukah dia yang melebihkan segala sesuatunya sehingga sulit bagi Citra untuk melupakannya. Hari demi hari Citra jalani, membiasakan diri tanpa ada lagi ucapan "Selamat Pagi" darinya. Dan Citra hanya menyemangati dirinya sendiri agar tidak memikirkan hal itu lagi. "AKU BISA tanpa mu!! :')" kata Citra dalam hati.


BLOG....
"Aku nulis ini dengan perasaan yang tdk pernah kamu tahu. menatap sebuah layar, melihat mu dari dunia maya, menatap mu secara spontan dan dari kejahuan. Kamu tak pernah ingin tahu apa yang aku rasain. Asli kamu cuek banget..

Harus kah aku mempertahankan sosok orang yang seharusnya aku lepaskan? sosok orang yang tak pernah memperdulikan akan hadirnya diriku. Apakah aku harus terus berharap atas adanya kabar darimu ? menyapa ku terlebih dahulu saat aku tak pernah mengharapkan hal itu, itu dulu.. saat kamu dan aku belum ada hubungan 'pacaran'.

Sekarang lihatlah dirimu, lihat kelakukan mu yang tak lagi sama seperti dulu. sekarang sebuah perhatian, memberi kabar menjadi pertimbangan olehmu. apakah kamu tahu, aku sedang merindukanmu?? Sepertinya tidak. Aku mencoba merangkul kesepianku agar tidak terlalu merindukanmu.
Kadang aku menunggumu untuk memberikan kebahagian nyata untukku. apakah harapan ku itu hanya sia-sia, karna telah hadirnya seorang perempuan yang kamu anggap penting dari diriku ? . aku tak bisa memaksakanmu, itu adalah pilihanmu.
 
Ingatkah engkau atas ucapan yang telah kamu lantunkan untukku?? kata-kata yang membuatku merasa senang. pernahkah kamu berpikir bahwa apa yg telah kamu janjikan kepada seseorang akan percuma, tdk akan pernah terwujud dan membuat org tersebut terluka. Semua hal yg penting kamu abaikan. Kamu egois, hanya memikirkan dirimu agar kau senang tanpa mengetahui bahwa dia sdng terluka. Kamu merangkai kata seindah mungkin sehingga seseorang mempercayainya. Dengan susahnya kamu merangkainya tapi dengan mudahnya kamu mengingkarinya. Ku ingin kamu menyadari atas apa yang telah engkau perbuat. Jangan mengucapkan se-KATA pun kalo itu hanya sebuah rayuan/gombalanmu terhadap wanita. Jangan memberikan harapan jika bukan Aku orangnya. Dan jangan memberikan perhatian lebih karna itu hanya membuat seorang wanita merasa dilebihkan olehmu, sehingga wanita itu berpikir bahwa kau menyimpan perasaan untuknya.....

............
Aku akan melangkah jauh, sejauh mungkin. Sehingga aku dapat melupakanmu. Apa yang engkau mau semoga itu yang terbaik. Kamu berjalan dan Aku pun begitu, berjalan kearah yang berbeda. Kita tak searah, kita tak sepikiran, harapan kita sama yaitu "BISA BAHAGIA" tetapi tujuan kita yang berbeda.
Kita teman, kita saudara, dan tak akan pernah ada kata musuh diantara kita. Dan tak ada rasa benci yang tersimpan #semoga". "Love brings me to another planet where I can find the body to put my heart there"-(Aulia Nurul Adiyah)-" saat Citra bercerita pada blog miliknya.

Wednesday, October 9, 2013

Sebuah meja gambar yang mempunyai panjang sekitar 3,5m dan lebar 5m terletak tak jauh dari kamar tidurku. Meja itu adalah tempat dimana ayahku menuangkan karya-karyanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.

Saturday, July 6, 2013

Kisah Inspiratif SNMPTN dan SBMPTN 2013

Siti Horiah mahasiswa dari Program Studi Teknik Nuklir 2012 mendapat penghargaan sebagai pemenang pertama dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 yang diadakan dalam rangkaian acara Seminar Motivasi Nasional oleh divisi keilmuan Kamadiksi dalam rangka meningkatkan motivasi penerima beasiswa Bidik Misi. Acara yang memiliki tema “Menembus Batas, Memetik untaian mimpi ” ini diselenggarakan pada hari Minggu, 7 April 2013 bertempat di Gedung Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada dengan pembicara Dr. Revrisond Baswir (pakar Ekonomi Kerakyatan), Dr. Widyo Winarso (Kepala Subdirektorat Kemahasiswaan DIKTI) dan Bapak Eko Prasetyo. Talkshow dengan narasumber tersebut sangat menginspirasi dan memotivasi para peserta seminar yang jumlahnya kurang lebih 1100 orang, di mana para peserta tersebut didominasi oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi UGM ditambah dari universitas lain di sekitar Yogyakarta.

Dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 ini, peserta wajib menuliskan kisah nyata perjuangan mereka dalam merajut asa dan meraih impiannya masing-masing. Kisah yang harus menginspirasi banyak orang nantinya, kisah yang dapat memeberikan gambaran banyak orang betapa kita tak boleh berputus asa dalam meraih impian. Siti Horiah sendiri mengaku bahwa dirinya tidak menyangka dapat memenangkan lomba kepenulisan ini, karena latar belakang jurusan sebagai anak teknik yang harus bersaing dengan orang-orang hebat yang memang bergelut dalam bidang kepenulisan. Namun tanpa disangka dirinya dapat berprestasi dan bisa produktif dalam menghasilkan cipta dan karya yang terbaik. Inspirasi dan bakat itu memang akan selalu ada dalam diri seseorang tanpa terkecuali selagi ada motivasi yang kuat dalam diri untuk menciptakan karya terbaik untuk bangsa ini.




Meja Telepon Ibu
Siti Horiah
Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012

 

Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.
Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.
Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.

***

Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.
“ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.

Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.

Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.

Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.

Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.
Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.
“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.

Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.

Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.

Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.

Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.

Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.
Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.

“ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.

***

Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.

Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.

***

Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.

Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.


***

“Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.
Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.

***

Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.
“kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.
Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.
Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.
Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.
Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.

***

Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.

“Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia

Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.

Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.

***

Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.
“Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis
Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

***

Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.
Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.— bersama Sapriyan Syah.

Saturday, May 18, 2013

Dwitasari :): Tolong Buat Aku Lupa

Dwitasari :): Tolong Buat Aku Lupa: Jelaskan padaku mengapa semua jadi serumit ini? Aku tak tahu jika kamu tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil di otakku, hingga memenuhi r...

Thursday, April 4, 2013

Berpikir Positif dan Percaya Diri

Yakin dan percaya saya akan menjadi seorang Psikolog. Seorang Psikolog ternama dan diterima diUniversitas ternama juga ;). selagi kita mau, dan selagi kita berkeingingan untuk mencapainya, apa yg tidak ? Semuanya dapat terwujud bila ada rasa percaya diri. So, jangan takut guys ;).
Yang menentukan masa depan kita, yaaa kita sendiri.. Bukan teman deket, sahabat, atau org lain. Tetapi mereka sebagai motivator kita untuk bisa sukses dari apa yg tlah diharap2kan selama ini.

Impian dan harapan itu tlah ku rangkai dan akan mewujudkannya. Salah satu dari harapan dan impian itu ialah membanggakan kedua orng tua. Mereka bisa bangga dari apa yg telah kita dapatkan dan kita hasilkan. Tentu sebagai seorang diri mengharapkan nilai yang MAX, mendapat IP tertinggi merupakan kebanggaan tersendiri dan jg org tua.
Banyak yang ku impikan dan semoga terwujud saat sy menumpuh jalan itu, salah satunya saya lulus di Universitas ternama di Indonesia dan di Universitas ternama yang berada di Luar Negeri. YES, I CAN !!!!!! Go Fighting try . You can, cause what is not possible? In shaa Allah, All is possible^^. Say's I CAN, CAN, and CAN !!!!!!!!!!!!!!!!